Ini adalah isu yang mengagetkan di sebuah stasiun TV. Meskipun tidak
menyebutkan secara langsung, namun pernyataannya menjurus ke hal
tersebut. Sebuah pernyataan yang terlontar tanpa berpikir terlebih
dahulu. Kita yang mendengarkan pun risih. Teganya melontarkan tuduhan
yang tidak benar dan tidak memiliki dasar yang kuat.
Pernyataan yang dilontarkan dalam media tersebut bahwa pola rekrutmen
teroris muda sasarannya adalah siswa SMP akhir dan SMA sekolah-sekolah
umum dan masuk melalui program ekstra kurikuler di masjid-masjid
sekolah. Ini adalah pernyataan yang menyoroti rohis-rohis di
sekolah. Ini adalah tuduhan yang tidak benar. Sepertinya terlalu gegabah
menuduh rohis sebagai tempat rekrutmen teroris. Siapa yang melempar isu
tersebut harus mencabut kembali pernyataannya dan
mempertanggungjawabkan apa yang telah dikatakan.
Sekiranya orang tersebut bisa memberikan bukti. Ataukah mencari
informasi secara langsung lalu melemparkan isu tersebut. Namun mereka
hanya bisa berkata tanpa memberikan data yang valid yang bisa mendukung
pernyataan tersebut.
“Tentu kita prihatin. Tentu pernyataan tersebut keluar dari
orang-orang yang tidak paham dengan rohis. Olehnya itu media yang
memberitakan hal tersebut harus meminta maaf” ungkap Ustadz Rahmat
Abdurrahman, Lc., M.A selaku ketua MUI Makassar ketika diminta
tanggapan tentang isu tersebut. Ustadz Rahmat selaku mantan pengurus
Rohis SMAN 3 Makassar menambahkan bahwa kita harus tetap konsolidasi
dengan rohis-rohis agar semuanya berjalan dengan stabil dan ini menjadi
momen bagi rohis-rohis untuk lebih solid.
Entahlah, ada modus apa dibalik semua ini apa maksud dari pemberitaan
tersebut. Kita semua sudah tahu dan memahami bahwa kegiatan ekskul
agama atau rohis-rohis di sekolah adalah kegiatan yang positif dan kita
melihat anak-anak rohis memiliki akhlak yang baik. Di rohislah para
siswa memahami ajaran agamanya dengan baik. Belum tentu para orang tua
siswa memberikan apa yang dibutuhkan oleh mereka. Tidak mungkinlah
organisasi yang memiliki peran yang besar menyelamatkan generasi bangsa
dituduh sebagai tempat pembentukan teroris.
Jadi disini kami tegaskan bahwa rohis bukanlah tempatnya teroris. Tapi Rohis adalah tempat pembinaan akhlak bagi generasi-generasi penerus.
Kami menghimbau kepada media dan narasumber agar tidak sembarang
memberitakan hal-hal yang tidak benar dan semestinya meminta maaf kepada
rohis-rohis se-Indonesia atas pernyataan tersebut.
Kami mengajak kepada orang tua siswa dan para remaja muslim agar tidak
perlu khawatir untuk beraktivitas bersama ekstrakurikuler sekolah
khususnya di Masjid (rohis).
Janganlah kita mudah diprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak
bertanggungjawab melemparkan isu-isu yang tidak benar. (Abu Ubaid
Assabbany)
Berikut komentar beberapa orang tentang hal tersebut :
Muhammad Abid Fauzan (Pembina Rohis) : “Isu tersebut harus kita
kritis, karena rohis bukan sarang teroris justru sebaliknya rohis tempat
pemberian pencerahan dan sangat berlawanan dengan teroris. Oleh karena
itu media harus tabayyun ( klarifikasi) dulu, agar tidak saling
memfitnah ataupun menuduh.”
Muhammad Awaluddin Harun (Ketua FK2PI) : “Justru sebaliknya,
mereka yang bukan aktivis rohis berpeluang untuk dijadikan generasi
teroris karena ketidakpahaman mereka akan syariat pada umumnya dan jihad
pada khususnya.”
Muhammad Scilta Riska (Mahasiswa) : “Isu terorisme hanyalah
politik para penguasa terutama propaganda barat untuk mengalihkan
perhatian supaya masyarakat lupa tempat pengkaderan koruptor itu para
penguasa. Disamping itu juga ada kekhawatiran muncul pemuda-pemuda yang
agamis, padahal betapa banyak orang-orang hebat alim ulama kita terlahir
dari rohis. Harusnya kita bersyukur masih ada rohis yang meng-counter paham-paham sesat dari luar perusak generasi bangsa.”
Fajrin Shadiq (Alumni SMA & Mantan Pengurus Rohis) : “Rohis
bukanlah penghasil kader teroris, dan bukan pula sarang orang pemalas.
Ketahuilah rohis itu mampu menghasilkan kader-kader berkualitas bahkan
kader-kader yang dihasilkan mampu menyamai bahkan mengalahkan
kader-kader pesantren.”
Duplicate from : http://www.rumahrohis.com/2012/09/rohis-teroris.html
0 komentar:
Posting Komentar