Ketika mega merah, matahari
tenggelam dan ia akan segera kembali beristirahat, menghilangkan lelah dan
penat seharian. Ia sudah banyak mengeluarkan energi pagi hingga menjelang
maghrib. Aku baru pulang ketika 30 menit lagi adzan maghrib berkumandang. Hari
ini hari senin, ketika hari senin tiba semua aktivitasku kembali seperti
biasanya. Selamt datang hari yang penuh dengan lelah dan penat. Segera kubayar
tukang ojek yang kutunggangi, karena tidak ada uang pas aku berikan saja ia 5rb
rupiah. Tapi anehnya aku dikasih kembalian seribu seharusnya 2ribu. Karena
selama ini yang aku tahu, ongkos ojek dari sekolah sampai rumah Cuma 3ribu,
tapi aku pikir yaa tak apalah itung-itung buat amal. Segera ku masuk rumah.
“Assalmualikum”
“Walaikumsalam, ekskul apa hari ini, kok baru pulang?” ayah bertanya pada
ku
“Tadi nemenin temen-temen latihan Rebana, buat lomba sabtu depan, karena
aku tadi yang cari pelatih.”
Itu yang aku suka dari ayah, beliau
selalu percaya padaku, jadi aku selalu takut berbohong dengannya. Ayah selalu
percaya bahwa apa yang aku lakukan itu yang trbaik untukku. Dengan kepercayaan
besar yang ayah berikan padaku, tak sedikitpun aku bohongi ayah dan juga pasti
ibu. Ketika kulangkahkan kaki kedapur, ibu sedang mencuci piring. Seharusnya
setiap sore tugasku menyapu dan mencuci piring. Tapi mungkin menurut ibu aku
terlalu capek jadi ibulah yang mengerjakan tugasku. Lain halnya dengan ayah,
ibu banyak mengeluhkan capeknya ia seharian tanpa dibantu aku, seolah-olah akulah
yang salah, akulah yang membuat ibu kecapain, dan dalam kondisi seperti ini aku
selau merasa aku salah dan selamanya akan salah. Walau hanya beberapa menit ibu
bersikap seperti itu. Tapi sangat membekas dihatiku, takut jika aku selalu
mngecewakannya. Takut jika hadirnya aku malah merepotkan ibu. Hari ini ketika
aku harus pulang menjelang Maghrib, dan sebelnya ibu padaku, dan malunya aku di
eskul. Sungguh tak kubayangkan sebelumnya jika hari ini akan banyak
cobaan-cobaan dariNYa.
Mbak Tika menyampaikan maafnya
kepada kami bertiga. Sebenarnya tak perlu meminta maafpun tak apa. Memeng ada
sedikit rasa kecewa dihatiku, tapi entah dihati Lita dan Tia apakah mereka
kecewa?. Hari sabtu dimana aku dan Reni
harus bolak-balik gading – purworejo, lebih dari tiga kali, dalam waktu 1 jam.
Harus memberanikan diri sok kenal sok dekat sama orang yang sama sekali tidak
aku kenal. Aku tahu kalok Mas ini, pelatih ya.. dari mulut kemulut. Alamt
rumahnya juga tanya sana-sini. Ketika hari minggu aku korbankan acara jalan-jalanku,
bimbelku, untuk bertemu Mas pelatih, dan sampai samapai aku jatoh dari motor.
Sehingga kuputuskan untuk pulang dan tak menunggu Mas pelatih. Sore hari, Mas
pelatih malah datang kerumahku, tanya kenapa gak jadi latihan. Yaa kuceritakan
apa yang terjadi. Dan hari ini ketika kami bertemu Mas pelatih dan aku yang
mereka anggap lebih kenal mas pelatih, harus mempersilahkanya. Tapi ketkitak
aku harus latihan , sungguh memalukan ditambah ada yang bilang sadar atau tidak
sadar “aduhhh kamu kok telmii banget”. Langsung aku ngedwon. Jujur pada saat
itu aku merasa bagaikan api yang disiram hujan es. Segera rasanya ingin
kubenturkan kepalaku ke tembok musholah. Karena bodohnya aku, dan lagi –lagi
mas pelatih dan temanya mesam-mesem sekaligus tertawa dengan ketidak nalaranku.
Huuuuuussssshhhhh,,,, STOP, sudah cukup menghina diri sendiri, sekarang segera
kembali bangun pondasi semnagtku dengan batu tekad, serta campuran ketekunan
dan do’a. Mereka mengatakan aku seperti ini, agar aku mampu menjadi aku yang
lebih baik daripada mereka.

0 komentar:
Posting Komentar